Gaza, mu4.co.id – Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menekan Kairo agar menerima rencana pemindahan paksa penduduk Palestina dari Jalur Gaza, usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty dan Kepala Intelijen Umum Hassan Rashad selama kunjungan ke Kairo Rabu lalu.
Berdasarkan laporan dari The New Arab; Al-Araby Al-Jadeed, mereka menggunakan krisis keamanan air Mesir sebagai “senjata” untuk mewujudkan pemindahan penduduk Palestina tersebut. Pihaknya pun menyatakan bahwa keterlibatan AS dalam menyelesaikan krisis waduk dapat berjuntai pada kerja sama Mesir dalam merelokasi masyarakat Gaza ke Mesir dan Yordania.
Meskipun mendapat tekanan, pejabat Mesir dengan tegas menolak usulan mengenai Gaza kudu “dibersihkan”, dengan populasinya yangg tersisa sebelum perang sebanyak 2,3 juta jiwa yangg dipindahkan ke negara-negara tetangga. Pihaknya menyuarakan kekhawatiran atas usulan tersebut, memperingatkan tentang tantangan dan konsekuensinya yangg signifikan sembari menekankan kesulitan pelaksanaannya.
Baca juga: Utusan Trump Pertimbangkan Indonesia Jadi Salah Satu Tujuan Relokasi 2 Juta Penduduk Gaza
Sementara itu, seorang sumber diplomatik senior Mesir menyebut bahwa keahlian Kairo untuk melawan rencana Trump bakal susah dilakukan tanpa support organisasi Arab yangg lebih luas. Dimana Trump diindikasikan bakal berkeinginan untuk meneruskan usulannya meskipun ada keberatan dari Mesir.
Menurut ahli bicara kepresidenan Mesir, Mohamed El-Shenawy, kedua pemimpin tersebut melakukan “diskusi positif” mengenai penerapan tahap pertama dan kedua dari perjanjian gencatan senjata di Gaza. Mereka juga menekankan urgensi percepatan pengiriman support kemanusiaan ke Gaza.
Lebih lanjut, El-Shenawy menambahkan bahwa masyarakat internasional memandang Trump sebagai tokoh kunci dalam menengahi resolusi berhistoris untuk bentrok yangg telah berjalan lama, dengan mengutip pernyataan Trump yangg berulang tentang “komitmen untuk perdamaian”.
(sindonews.com)